Depan : Kolom : Yayasan Keluarga sebagai Pilar Filantropi

Yayasan Keluarga sebagai Pilar Filantropi

Hamid Abidin, M.Si, Direktur Eksekutif PIRAC

Salah satu ciri utama filantropi (kedermawanan sosial) yang membedakannya dengan kegiatan karitas adalah pengelolaan dermanya yang dilakukan secara terorganisir. Agar berkesinambungan, filantropi perlu dikelola dalam sebuah wadah organisasi. Salah satu bentuk organisasi filantropi yang paling tua dan banyak dikenal adalah yayasan keluarga. Organisasi ini merupakan cikal bakal dari lahirnya bentuk-bentuk organisasi filantropi yang lebih besar dan modern karena kegiatan filantropi umumnya di mulai dari rumah, di antara lingkungan keluarga (charity begin at home).

The Council on Foundations mendefinisikan yayasan keluarga sebagai “organisasi sosial berbentuk yayasan yang didirikan, didanai dan dikelola oleh sebuah keluarga atau perusahaan keluarga dengan melibatkan orang-orang terdekatnya sebagai anggota dewan pengurus untuk menjalankan program yang menjadi minat atau kepentingan keluarga yang menjadi pendirinya”. Yayasan keluarga umumnya didirikan oleh keluarga kaya dengan tujuan agar mereka merasa lebih bebas dan leluasa mengontrol lembaga yang mengelola sumbangannya, serta menentukan program-program yang didukung atau didanainya.  Dalam banyak kasus, pengelolaan yayasan dilakukan oleh generasi kedua atau ketiga dari anak cucu pendiri sebagai donatur awal organisasi tersebut.

Yayasan keluarga sebenarnya tidak memiliki definisi hukum yang membedakannya dengan yayasan privat lainnya. Namun, yang membedakan yayasan keluarga dengan yayasan lainnya adalah karena yayasan ini secara formal mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai yayasan keluarga (misalnya dengan memasukkan kata “keluarga” dalam nama yayasannya) atau memiliki donatur yang namanya dipasang dalam nama yayasan. Untuk mengelola yayasan ini, sedikitnya satu anggota keluarga diberi mandat oleh pendiri yayasan untuk menjabat sebagai pengelola atau anggota dewan pengurus dari yayasan. Sebagian besar dari yayasan keluarga dikelola oleh anggota keluarga yang berperan sebagai pengurus atau direktur dengan basis kerja sukarela tanpa mendapatkan kompensasi dari organisasinya. Sebagian besar yayasan keluarga lebih berkonsentrasi pada kegiatan filantropi lokal dengan menjalankan kegiatan kedermawanan di masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Gersick dalam Al Lyons (2003)  mencatat ada tiga alasan utama yang menjadi motivasi atau latar belakang bagi pendirian yayasan keluarga. Pertama, yayasan keluarga didirikan untuk mendukung atau menangani pekerjaan-pekerjaan yang dianggap bermanfaat. Kedua, yayasan didirikan untuk melindungi harta dari pajak. Ketiga, pendirian yayasan dimaksudkan untuk menciptakan warisan keluarga dalam bentuk organisasi sosial. Keseimbangan antara motivasi-motivasi tersebut dengan berbagai bentuk  konflik yang berpotensi muncul dalam pengelolaan yayasan merupakan tantangan terbesar dalam pengelolaan yayasan keluarga.

Sebagian besar dari yayasan keluarga, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika, didirikan dan dibesarkan oleh orang-orang yang memiliki perusahaan keluarga (family businesse). Dengan latar belakang tersebut, Gersick mengidentifikasi beberapa problem unik yang lahir dari dari kombinasi antara kepentingan filantropis dengan perhatian untuk bisnis sebagai warisan keluarga. Salah satunya adalah potensi perpecahan diantara keluarga yang menjadi pendiri atau donaturnya. Jika bisnis dapat mempersatukan beberapa keluarga dalam sebuah kerja sama, yayasan keluarga yang cenderung menekankan individualitas dapat dengan mudah mendorong anggota-anggota sebuah keluarga berpecah belah. Selain itu, keterlibatan keluarga menghadirkan persoalan yang berkaitan dengan suksesi dan keberlajutan dari wasiat orang tua atau keluarga sebelumnya, namun hal itu juga menghadirkan kesempatan bagi konflik keluarga yang akan bermain dalam arena filantropis.

Persoalan atau tantangan lainnya yang biasa muncul dalam pengelolaan yayasan keluarga adalah keberlanjutan organisasi yang dikaitkan dengan pewarisan misi atau nilai kepada generasi berikutnya. Dalam konteks ini, Gersick dalam Al Lyons (2003)  mengemukakan tiga tingkatan atau periodisasi yang biasanya dilalui dalam pengelolaan yayasan keluarga. Pertama, periode awal di mana yayasan keluarga dikontrol sepenuhnya oleh pendiri yang sekaligus menjadi donaturnya. Kedua, periode di mana yayasan keluarga dikelola secara kolaboratif oleh anggota-anggota keluarga penerus dari pendiri dan donatur yayasan tersebut. Ini merupakan periode di mana keluarga yang menjadi pendiri yayasan tersebut sudah tidak punya pengaruh yang cukup kuat dalam yayasan karena sudah meninggal atau mengundurkan diri dari kepengurusan yayasan. Pengelolaan selanjutnya dilanjutkan oleh anak-anak, cucu atau anggota keluarga yang lain yang menjadi penerusnya. Ketiga, periode di mana yayasan keluarga dikelola oleh staf profesional yang diangkat oleh anggota keluarga. Meski masih memiliki pengaruh dan ikut mengontrol perkembangan yayasan, anggota keluarga sudah sepenuhnya menyerahkan pengelolaan yayasan kepada staf-staf profesional.

Dalam peralihan dari satu periode ke periode lain, menarik untuk melihat berbagai tantangan dan keputusan-keputusan yang diambil oleh yayasan keluarga, khususnya mengenai perubahan kepemimpinan generasi tersebut. Gersick mencatat bahwa perkembangan dari tingkatan pertama ke tingkatan kedua biasanya tak terelakkan seiring dengan berjalannya waktu. Namun,  untuk berkembang dari tingkatan kedua ke tingkatan ketiga menjadi pilihan yang penting bagi organisasi. Pada saat inilah akan muncul banyak konflik dan dinamika dalam berbagai pekerjaan yang dilakukan oleh yayasan keluarga maupun dalam keluarga yang menangani yayasan tersebut. Pada saat-saat yang berpotensi untuk konflik inilah kekuatan dari misi dan stabilitas organisasi merupakan hal yang penting bagi keberlangsungan hidup yayasan tersebut.

Berkaitan dengan problem tersebut, governance dan kontinyuitas menjadi elemen yang penting dalam pengelolaan yayasan keluarga. Keduanya mencakup misi yang didefinisikan secara jelas, peran dari dinamika keluarga, beberapa pilihan dalam pengembangan struktur organisasi, dan kebutuhan untuk menyuarakan suksesi yang terencana. Diperlukan juga dewan penyantun yang efektif yang memberikan sebanyak mungkin perhatian pada misi organisasi, suksesi yang terencana, dan operasional yang efektif, seperti halnya proses pemberian hibah. Pembedaan yang tegas antara pengatur/ pengurus dan manajemen merupakan hal yang penting bagi efektivitas opersional yayasan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa sumber daya yang memadai diinvestasikan dalam operasional. Dalam banyak kasus, Gersick mencatat, bahwa banyak konflik di yayasan keluarga terjadi karena terbatasnya pengeluaran untuk operasional yayasan. (Hamid Abidin, Direktur Eksekutif PIRAc)

Lihat juga

Malangnya Kota Malang

Malangnya Kota Malang

Kota Malang berhawa sedang, dulu terkenal sebagai kota dingin di Jawa Timur. Malang terletak pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *