Depan : Buku : Menjadi Bangsa Pemurah

Menjadi Bangsa Pemurah

Wacana dan Praktek Kedermawanan Sodial di Indonesia

“Tak lama lagi orang yang mati dengan meninggalkan kekayaan jutaan dolar, akan pergi tanpa ada yang menangisi, tidak terhormat dan tidak diperbincangkan. Orang yang meninggal demikian berarti meninggal dalam kehinaan.” (Andrew Carnegie)

Kegiatan kedermawanan sosial (filantropi) di Indonesia dalam lima tahun terakhir berkembang pesat dan menemukan momentumnya saat krisis ekonomi dan bencana alam secara beruntun melanda negeri ini. Situasi krisis nampaknya tidak menghalangi orang untuk berderma dan peduli dengan penderitaan sesama. Kondisi tersebut justru telah meningkatkan kepekaan dan kepedulian masyarakat.

Namun di tengah pesatnya perkembangan kegiatan kedermawanan tersebut, terjadi distorsi besar-besaran terhadap unsur, lembaga, maupun aktivitas filantropi itu sendiri. Distorsi tersebut bisa kita lihat dari penyalahgunaan institusi filantropi, penyelewengan dana sosial, sampai pada penggunaan terminologi “hibah” sebagai kedok untuk menutupi kekayaan hasil korupsi. Ironisnya, distorsi tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pejabat tinggi negara, tapi juga aktivis sektor nirlaba sendiri.

Dengan dua kondisi yang kontradiktif ini, akankah kedermawanan sosial di Indonesia bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat? Bisakah kegiatan filantropi yang terkait dengan profesionalisme, akuntabilitas dan penegakan hukum bisa berkembang pesat?

Buku Menjadi Bangsa Pemurah ini mencoba memotrtet perkembangan kedermawanan sosial di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir, berikut dengan segala persoalan, peluang dan tantangan yang menyertainya.

Lihat juga

Menilai Tanggung Jawab Sosial Televisi

Menilai Tanggung Jawab Sosial Televisi

Buku ini merupakan hasil penelitian yang berusaha mendeskripsikan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang dilakukan …