Depan : Berita : Penyiar Rakom Simponi : Rela Kerja Lelah Meski Tanpa Upah

Penyiar Rakom Simponi : Rela Kerja Lelah Meski Tanpa Upah

RANOOHA – Mas Bangun menggoyangkan kepalanya dengan asyik, mengiringi lagu campur sari Karya Manthous, Caping Gunung, yang dihantarkannya dalam siaran bertajuk “Campur Sari Mengumandang”, Siang Selasa (6/11/2012), di Radio Komunitas (Rakom) Simponi di Desa Ranooha Lestari, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Di tengah keasyikannya mengiringi lagu tersebut disela oleh telpon yang berdering, fansnya menyapa dan menitip salam untuk pendengar yang lain. Mas Bangun menhantarkan lagu request pendengar dan salam dengan candaan yang hangat.

Ia menggunakan bahasa Jawa, karena sebagian besar pendengar radio di Ranooha Lestari ini adalah komunitas Jawa yang transmigrasi dari Pulau Jawa ke Sulawesi Tenggara di tahun 1980 an. Dengan celotehnya yang khas dan logat Jawa yang medok serta di sela tawa yang lepas membuat pendengarnya bertambah senang.

Setelah etnik Jawa, Pendengar Radio Simponi juga berasal dari etnik Bali, dan Bugis. Untuk sementara untuk kedua etnik ini belum terwakili dalam bentuk acara khusus berbahasa Bali dan Bugis, karena menurut Mas Bangun, belum ada penyiar yang berasal dari etnik ini. Pihak pengelola Rakom Simponi belum berani untuk merekrut penyiar berbahasa Bali dan Bugis, karena seluruh penyiar di Rakom Simponi berkerja dengan sukarela, tidak diberikan insentif.

Menurut Mas Bangun, para pengelola Rakom Simponi, berprinsip: “Rela Kerja Lelah dan Payah Meski Tanpa Upah”. Berkerja sebagai penyiar di Rakom Simponi lebih dilandasi hobi dan rasa ingin berbagi dengan sanak saudara. Rasa itu di-frame dengan sangat disiplin dan istiqamah. Sehingga dengan semangat dan tanggung jawab para penyiar tetap disiplin dengan jam siarnya. Karena itu pula pengelola yang rata-rata berasal dari etnik Jawa tersebut, belum berani mengajak etnik lain karena takut mengkecewakan mereka, itu semua karena sistem kerelawanan yang mereka bangun untuk radio ini.

“Namun demikian, kendati tidak ada penyiar berbahasa Bali dan Bugis, kepuasan etnik tersebut tetap diutamakan dengan memutarkan lagu-lagu berbahasa Bali dan Bugis lewat acara Gado-gado Simponi oleh Penyiar Windra dengan pengantar Bahasa Indonesia,” tutur Bangun kepada Tim Sekolah Fundraising PIRAC, Maifil dan Yayan yang berkunjung ke Rakom Simponi.

Mengawali hari sekitar Pukul 06.00, Mas Bangun, 49 tahun, sudah bangun pagi. Sembari ditemani secangkir kopi ia beranjak ke ruang siaran dari rumah belakang ke studio yang berada di lantai 2 gedung depan rumahnya. Ia pun mulai menghidupkan perangkat radio dan menyelingi acara dengan lagu-lagu gembira. Pagi itu ia membawa siaran bertajuk “Gudang” (Gula-gula Dangdut), di sela nyanyian dangdut yang berkumandang, Mas Bangun menyapa pendengar, “Ayo bangun…bangun… bangun, telat bangun rejeki akan dicocol Pitik, ahaaaa,” ujarnya dengan suara yang khas.

Agaknya karena itu pulalah, Mas Bangun yang bernama asli Kasmari, 49 tahun ini, digelari Mas Bangun, karena saban hari kerjaannya membangunkan fans radio yang dikelolanya. Mas Bangun terlihat sangat bersemangat menyiar, karena pengakuan lulusan sekolah pertanian ini menyiar adalah hobi terberatnya. Ia mengaku, dengan menyiar hidupnya tidak menjadi sepi dan dengan fans membuat ia menjadi bahagia.

Selain Mas Bangun ada Mba Yana, 26 tahun, ia adalah penyiar selanjutnya, setelah Mas Bangun. Yana adalah seorang ibu dari seorang anak, Ia menjadi penyiar di Simponi sejak ia masih Gadis, siaran yang dibawakannya juga bertajuk “Gadis” (Gado-gado Istimewa). Meski tidak mendapat insentif menjadi penyiar acara Gadis di Rakom Simponi, Yana mengaku banyak mendapat berkah, salahsatunya adalah jodoh. Salah satu fans fanatiknya telah membuat ia melepas masa gadisnya. Ia terpincut karena sering berbagi salam dan berlanjut ke pelaminan.

“Alhamdulillah, setelah nikah suami saya mengizinkan saya untuk tetap melanjutkan menjadi penyiar, berbeda dengan teman-temannya yang lain, kebanyakan setelah menikah meski dengan fansnya kemudian ia dilarang untuk siaran, mungkin untuk menjaga agar fans lain tidak kepincut pula. Beda dengan saya, kepercayaan suami membuat saya terus berkarya meski sebagai ibu rumah tangga. Bahkan saya sering siaran sambil membawa momongan ke ruang studio,” ungkapnya.

Sebelum Yana selesai bersiaran, Mbah Joger, 57 tahun sudah siap-siap untuk menggantikannya. Mbah Joger meski sudah berumur, tetap setia menjadi penyiar dari awal Rakom Simponi berdiri tahun 2000-an. Ia membawakan acara berjudul “Saraba” diambil dari minuman khas Sulawesi Tenggara seperti Skotang di Jawa. Bahkan Saraba itu tepat juga sebagai kependekan dari nama acara yang dibawakan Mbah Joger yaitu Sari Rasa Banyuwangi (Saraba). Memang Mbah Joger yang merupakan ex transmigrasi dari Banyuwangi, Jawa Timur ini, menghibur komunitas Suku Banyuwangi yang terjangkau oleh siaran radio tersebut. Bahasa dan lagu yang diputar sepanjang acara Mbah Joger ini tentunya berbahasa Banyuwangi dan Lagu Daerah Banyuwangi. Semua senang dengan suara ala kakek-kakek dengan logat Banyuwangi yang dibawakan Mbah Jogger.

Mba Tika, 24 tahun adalah penyiar selanjutnya yang mengisi acara Simponi. Ia membawakan acara berjudul “Musim” (Musik Simponi), acara ini membidik kalangan remaja di area pantauan Rakom Simponi. Ia mempersembahkan lagu-lagu POP yang lagi hits. Ia pun menerima telepon dan sms sebagai atensi pendengar remaja. Di sini remaja saling berkirim salam dan saling mempersembahkan lagu untuk sahabat dan kekasih. Tidak jarang acara yang dibawakan Mba Tika ini menyatukan dua insan yang berjarak untuk membentuk bahtera rumah tangga. Hal yang sama dirasakan Mba Tika dan Mba Yana sendiri yang mendapat berkah sebagai penyiar dan bertemu jodoh dengan fansnya sendiri.

Setelah lagu POP yang dibawakan Mba Tika, selanjutnya acara menjelang sore dibawakan oleh Bang Jay, 30 tahun. Bang Jay siaran setelah ia menyadap nira kelapa setiap harinya. Ia membawa acara “Simponi Bergoyang”, yang berisi lagu-lagu dangdut populer. Siaran ini benar-benar menjadi pelepas penat pendengar yang rehat dari beraktifitas, sembari ngopi sore. Fans Bang Jay sangat banyak, sehingga terkadang Bang Jay kewalahan untuk memenuhi request lagu yang dikirim melalui SMS dan telpon. Baru saja Bang Jay menutup telpon, telpon baru berdering lagi, akhirnya Bang Jay terkadang mengabaikannya untuk sementara memenuhi request dari fans terdahulu.

Selanjut selepas Magrib, acara diisi oleh Bang Aji, 29 th dan Bang Purwa, 29 th, mereka menghantarkan acara “Kios Musik Simponi” ( Kimus), berupa lagu-lagu kasidah, irama padang pasir dan pop daerah dari mana saja. Acara ini untuk memenuhi kepuasan seluruh etnik yang menjadi pendengar Rakom Simponi. Dari suku manapun boleh merequest lagu sesuai dengan etniknya dan tentunya kirim-kirim salam melalui acara ini untuk fans yang lain. Kelakar Bang Aji dan Bang Purwa menambah hangat suasana.

Di penghujung malam, Rakom Simponi ditemani Bang Windra, 32 th, lewat siaran “Kemas” (Kenangan Masa), yang dibawakannya, Bang Windra membawa fans Rakom Simponi ke peraduan. Suaranya yang serak basah, berceloteh di sela lagu kenangan yang mengingatkan pendengar pada masa-masa indah memaduh kasih atau kenangan manis yang tak terlupakan. Siaran ini juga membuat fans Rakom Simponi menghantarkan sahabat dan kekasih -yang jauh di mata tapi dekat di radio- untuk menyampaikan ucapan selamat tidur dan mendamaikan hati yang gelisah karena saling berjauhan.

Bang Windra hanya bertugas selain Senin Malam dan Kamis malam, karena di hari-hari tersebut siaran dipakai oleh Mbah Budiono, 60 th. Kakek ini mendampingi pendengar sampai pagi lewat acara “Wayang Semalam Suntuk”. Acara wayang merupakan siaran favorit etnik Jawa, bahkan pendengarnya terkadang tidak puas mendengarkan lewat pesawat radio di rumah. Mereka yang dekat dari studio bahkan berkumpul di Studio untuk bersama para sepuh lainnya mendengarkannya. Mendengarkan Wayang yang dibawakan oleh Mbah Budiono semakin nikmat dengan menyeruput kopi dan ubi singkong rebus yang terkadang mereka bawa sendiri dari rumah ke studio. Acara ini pun berakhir setelah azan subuh berkumandang, para pendengar yang kopi darat pun kembali ke rumah masing-masing untuk esok harinya memulai aktivitas seperti biasa. Begitu pula Rakom Simponi dipagi harinya pun mulai dibangunkan oleh Mas Bangun dan berlanjut seterusnya. – Maifil/Sekolah Fundraising PIRAC

Lihat juga

Siaran Pers : Penguatan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi Selera

PRESS RELEASE Penguatan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi Selera PT Indofood berkomitmen memberikan kontribusi pada kesejahteraan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *