Depan : Berita : Workshop Fundrasing: How To Fundraise Successfully

Workshop Fundrasing: How To Fundraise Successfully

Rabu (10/4/2019) PIRAC menghadiri Catalyst Workshop, diadakan oleh  Maverick, Jakarta. Tema workhop adalah Fundraising: How to Fundraise Successfully.  Workshop menghadirkan dua narasumber, pertama, Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection (COP), narasumber kedua, Agus Nadi, VP Corporate Social Responsibility  Bank Permata.

Kiat sukses menggalang dana

Hardi Baktiantoro selaku pendiri Centre for Orangutan Protection (COP) berbagi sejumlah kiat sukses menggalang dana. Pertama reputasi. “Reputasi adalah modal agar orang lain berpartisipasi”, ujarnya. Reputasi dapat dibangun salah satunya dengan membangun citra positif. “Pencitraan penting. Kita boleh narsis dalam bekerja dan narsis dalam menikmati hidup”, tambahnya.

Penggalangan dana (Fundraising) menurut Hardi Baktiantoro merupakan kerja kreatif yang membutuhkan ide-ide segar. “Dunia yang kreatif tidak terlalu ikut arus utama. Bisa diwujudkan dalam bentuk kata-kata , foto-foto, maupun video.”  Ditambahkannya bahwa citra positif dapat dibangun dengan penampilan yang meyakinkan, berkecukupan dan gembira, serta tidak terlihat miskin. “Branding itu penting. Ke mana-mana pakai atribut arganisasi.”

Menjawab pertanyaan bagai mana menyikapi donor yang memiliki kepentingan tersendiri dan tidak sesuai dengan core strategy atau core bussines organisasi, Hardi Baktiantoro menilai bahwa di situlah integritas dan profesionalisme kita diuji. “Uang adalah uang, semua perlu uang. Janganlah kita rakus, seperti Supermarket, semua diambil, harus fokus.”

Jika ada donor yang tertarik mendanai kegiatan yang tidak sesuai kompetensi lembaga, Hardi menyarankan agar memberikan referesi ke lembaga lain. “Kami pernah ditawari konservasi beruang oleh donor Australia, saya tolak, kasih ke lembaga lain.”  Mengerjakan pekerjaan tidak sesuai kompetensi dapat menurunkan integritas. “Donor tidak suka kalau kita tidak fokus”, pungkas Hardi.

Mengintip dapur CSR perusahaan

Agus Nadi, selaku VP Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Permata membeberkan secara lengkap visi misi, fokus, serta kegiatan CSR Bank Permata saat ini. Melalui icon baru CSR Bank Permata yang diberi nama “PermataHati”, Bank Permata melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi anak bangsa.

Tiga pilar utama CSR Bank Permata saat ini adalah Pendidikan (Education), Peningkatan kualitas (Enhancement), dan Pemberdayaan (Empowerment). Tiga pilar tersebut diwujudkan dalam berbagai program kegiatan seperti pengenalan dasar Financial Literacy, peningkatan kualitas fasilitas pendidikan, dan pelatihan-pelatihan (Trainings) aplikatif. Program-program andalan CSR Bank Permata saat ini adalah PERMATA Bankir Cilik, CERITA, PERMATA Youth Preneur, dan BRAVE.

Agus Nadi menjelaskan, ada empat syarat yang harus dipenuhi oleh partner untuk menjadi mitra strategis (Strategic Partnership) PermataHati, yaitu:

  • Sejalan (Inline) dengan nilai-nilai PermataHati
  • Fokus pada sektor pendidikan (Education), dan lebih disukai pada Financial Literacy
  • Dapat diaudit dan memiliki rekam jejak (Track Record) bagus dan bisa dibuktikan
  • Bebas dari isu SARA

Partner yang berkesempatan menjalin kerja sama dengan PermataHati juga harus memiliki program berkelanjutan, tidak sekedar Event Organiser. Pertimbagan lain yang dilihat adalah solusi yang ditawarkan, unik, dan budget (Cost Structure) yang sesuai.

Menanggapi pertanyaan apakah sebuah CSR perusahaan harus selalu membawa value/ kepentingan bisnis perusahaan, Agus Nadi menjawab bahwa program-program CSR memang bisa menjadi Strategic Bussines Partner. “Ada korelasinya CSR dengan bisnis”, pungkas Agus Nadi.

Misal pelatihan tentang Financial Literacy, Agus Nadi menambahkan, setelah para peserta paham materi yang disampaikan, pihaknya memberikan rekomendasi untuk menabung di Bank Permata, dengan memberi tahu kelebihan-kelebihan yang ditawarkan.  Hal tersebut dilakukan supaya profit bisa tumbuh, sejalan dengan kerangka pikir (Framerwork) Triple Bottom Line,  yaitu People, Planet, dan Profit. (SM)

Lihat juga

Family Gathering PIRAC ke Bromo

Rutinitas kesibukan dan  aktivitas pekerjaan sehari-hari selama setahun ternyata memproduksi kejenuhan staf.  Begitupun yang  dialami …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *