Pola dan Potensi Sumbangan Masyarakat Hasil Survei Rumah Tangga di 11 Kota Besar
Pengantar
Survei “Pola dan Potensi Sumbangan Masyarakat” yang dilaksanakan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat masih tinggi, yakni 99,6%. Artinya, hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden survei ini memberi sumbangan dalam setahun terakhir. Tingginya kedermawanan masyarakat juga bisa dilihat dari peningkatan jumlah masyarakat yang menyisihkan dana untuk sumbangan, serta besaran dana yang disisihkan. Hasil survei juga menunjukkan bahwa pola menyumbang masyarakat masih cenderung bersifat langsung (direct giving) dan untuk program jangka pendek. Survei juga mencatat tingkat pengetahuan publik terhadap LSM mengalami penurunan, yang diikuti juga menurunnya tingkat menyumbang masyarakat ke lembaga tersebut. Selain itu, tuntutan masyarakat terhadap transparasi pengelolaan sumbangan juga makin tinggi, meski masih sedikit masyarakat yang meminta laporan pertanggungjawaban sumbangan.
Temuan-temuan penting tersebut terungkap dalam seminar “Philanthropy Goes to Campus” yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang. Survey yang didukung FORD Foundation ini melibatkan 2500 responden dan dilakukan secara rutin setiap tiga tahun untuk mengetahui perkembangan filantropi di Indonesia, khususnya sumbangan individual/ perorangan. Survei ini sudah pernah digelar dua kali, yakni pada tahun 2000 dan 2004. Seperti dua survei sebelumnya, survei ini digelar di 11 kota besar, yakni Medan, Padang, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Balikpapan, Makassar, dan Manado. Populasi yang direpresentasi dalam survei ini adalah masyarakat kelas menengah atas yang dianggap memiliki kapasitas dalam menyumbang, yakni mereka yang memiliki penghasilan atau pekerjaan tetap, serta memiliki minimal benda-benda yang dianggap istimewa (mewah). Mereka dipilih menjadi responden survei dengan menggunakan metode multistage random sampling, sementara pengumpulan datanya dilakukan wawancara tatap muka.
TEMUAN-TEMUAN SURVEI
Seperti survei sebelumnya, tingkat kedermawanan masyarakat (rate of giving) pada survei 2007 masih cukup tinggi, yakni 99,6%. Artinya, hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden survei ini pernah memberi sumbangan dalam 1 tahun terakhir. Tingkat kedermawanan masyarakat pada survei 2007 relatif stabil, meski mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan (0,2%), jika dibandingkan dengan hasil survei tahun 2004 (99.8%) dan tahun 2000 (98%). Tingginya tingkat kedermawanan masyarakat juga bisa dilihat dari peningkatan jumlah masyarakat yang menyisihkan dana untuk menyumbang, serta besaran dana yang disisihkan. Jika pada dua survei sebelumnya (2000 dan 2004) hanya ada sekitar 16% masyarakat yang menyisihkan dana untuk sumbangan, pada tahun 2007 terjadi peningkatan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 43.7% responden. Sementara dana yang disisihkan juga meningkat dari 663.661 pada 2004 menjadi Rp 767.272 pada 2007.
Seperti survei sebelumnya, jenis sumbangan masyarakat dalam survei ini dibagi dalam tiga katagori, yakni sumbangan individu, sumbangan keagamaan dan sumbangan non keagamaan/ umum. Hasil survei 2007 menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan untuk sumbangan individu adalah 97%, sumbangan keagamaan sebesar 94% dan sumbangan non keagamaan/ umum sebesar 92%. Meski secara prosentase mengalami penurunan, dilihat dari jumlah dana yang diberikan, sumbangan masyarakat justru mengalami kenaikan, kecuali untuk sumbangan keagamaan. Dibandingkan dengan hasil survei 2004, jumlah rata-rata sumbangan masyarakat untuk individu sedikit mengalami kenaikan dari Rp 884.985/orang/tahun menjadi Rp 926.750/orang/tahun. Kenaikan juga terjadi pada sumbangan non keagamaan yang meningkat dari Rp 301.515/orang/tahun menjadi Rp 325.775/orang/tahun. Sebaliknya, sumbangan keagamaan mengalami sedikit penurunan dari Rp 483.241/orang/tahun menjadi Rp 334.850/orang/tahun.
Untuk sumbangan non keagamaan/ umum, secara umum polanya tidak berubah dibanding survei sebelumnya. Program perbaikan lingkungan sekitar, pelayanan sosial (termasuk program emergency) dan pendidikan tetap menjadi program favorit. Namun, secara keseluruhan program-program itu mengalami penurunan pada jumlah orang yang menyumbang, kecuali program pelayanan sosial, lingkungan hidup dan pengembangan ekonomi. Ini relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat dalam tiga tahun terakhir di mana bencana alam, kerusakan lingkungan dan penurunan daya beli masyarakat menjadi persoalan krusial yang dihadapi oleh masyarakat. Sementara penurunan jumlah penyumbang lingkungan sekitar dan pendidikan mungkin saja terjadi karena peningkatan anggaran pemerintah untuk program-program tersebut.
Jika dilihat dari jumlah rata-rata sumbanganya, terlihat ada peningkatan yang cukup tinggi untuk program pemberdayaan ekonomi, dari Rp 121.737/orang/tahun (2004) menjadi Rp 198.738/orang/tahun (2007). Peningkatan juga terjadi pada program pembelaan hukum dan seni budaya, masing-masing dari Rp 114.338/orang/tahun (2004) menjadi Rp. 194.680/orang/tahun (2007) dan dari Rp.81.150/orang/tahun (2004) menjadi 275.830/orang/tahun (2007). Sementara sumbangan untuk program lainnya, seperti pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan, secara umum mengalami penurunan. Penurunan jumlah sumbangan yang signifikan terjadi pada jenis sumbangan untuk kesehatan (dari Rp 355.230/orang/tahun menjadi Rp 120.310/orang/tahun), olahraga (Rp 163.900/orang/tahun menjadi Rp 85.317/orang/tahun) dan pendidikan (Rp 290.280 menjadi Rp 213.684).
Seperti survei sebelumnya, metode penggalangan sumbangan yang ditemui masyarakat masih didominasi oleh dua metode konvensional, yakni didatangi ke rumah dan menyumbang lewat kotak amal. Meski demikian, dua metode ini mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dua survei sebelumya. Sementara metode-metode yang lain, seperti event amal, menyumbang lewat teman, atau menyumbang lewat tempat kerja relatif stabil. Survei 2007 juga ditandai dengan mulai dikenalnya beberapa metode baru dalam penggalangan sumbangan, seperti sumbangan lewat SMS dan email atau internet. Ini menunjukkan metode penggalangan sumbangan yang digunakan oleh organisasi sosial mulai berkembang dan masyarakat mulai bisa menerima metode-metode baru dalam penggalangan sumbangan. Sementara metode yang banyak dipilih masyarakat dalam berderma juga tidak jauh dari survei sebelumnya, yakni dipotong dari pembelian barang, mengisi kotak amal, event amal, melalui tempat kerja dan didatangi ke rumah.
Survei 2007 menunjukkan bahwa alasan atau motivasi yang melatarbelakangi motif seseorang menyumbang polanya tidak berubah dibanding survei sebelumnya. Ajaran agama masih menjadi motivasi utama masyarakat dalam menyumbang (97%). Motivasi lain yang juga dominan adalah belas kasihan (90%), solidaritas sosial (87%), dan kepercayaan kepada organisasi (47%). Sedangkan ”tidak punya uang” dan ”tidak percaya pada penggalang dana” merupakan dua alasan tertinggi responden dalam menolak menyumbang. Namun, alasan tidak punya uang mengalami penurunan dibandingkan survei sebelumnya, sementara itu tingkat ketidakpercayaan kepada penggalang dana justru mengalami kenaikan. Alasan ketidakpercayaan ini juga diperkuat dengan alasan-alasan lain yang juga berkaitan dengan ketidakpercayaan, yaitu tidak percaya pada organisasinya dan tidak percaya pada programnya. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa faktor trust/ kepercayaan merupakan faktor yang krusial dalam kegiatan kedermawanan, selain faktor kapasitas menyumbang masyarakat yang lebih berkaitan dengan aspek ekonomi.
Berkaitan dengan laporan sumbangan, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (70%) memandang perlu untuk mengetahui laporan pendayagunaan sumbangan yang mereka berikan. Namun, Meski persepsi masyarakat terhadap pentingnya pelaporan sumbangan cukup tinggi, jumlah responden yang pernah meminta laporan sumbangan ternyata masih rendah (10%). Responden juga memiliki preferensi yang berbeda dari survei sebelumnya berkenaan dengan mekanisme pelaporan sumbangan. Pada dua survei sebelumnya sebagian besar responden lebih menyukai mekanisme pelaporan yang dipasang di tempat-tempat pertemuan (41% dan 47%) atau disampaikan langsung ke penyumbang (23% dan 20%). Namun, pada survei 2007 responden lebih menginginkan pelaporan yang disampaikan melalui media (26%). Ini mengindikasikan tuntutan pertanggungjawaban yang lebih tinggi dari masyarakat penyumbang kepada organisasi penerima sumbangan.
Survei juga mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang LSM menurun, dari 30% (2004) menjadi 23% (2007). Artinya, semakin banyak masyarakat yang tidak kenal terhadap LSM. Meski tingkat pengetahuan minim, sebagian besar responden (66%) menyatakan bersedia menyumbang jika diminta oleh LSM. Sayangnya, hanya 17% saja responden yang secara riil pernah menyumbang pada LSM. Sebagian besar responden (63,4%) tidak menyumbang karena tidak pernah diminta menyumbang oleh LSM. Alasan lainnya adalah tidak kenal dan percaya pada organisasinya (14%), tidak tahu info LSM (7,5%) dan tidak ada LSM di sekitar tempat tinggal (4,7%). Kecenderungan ini mengindikasikan minimnya upaya LSM dalam melakukan sosialisasi dan penggalangan sumbangan masyarakat. Karena itulah, komitmen dan kesediaan masyarakat untuk menyumbang tidak bisa dimanfaatkan karena masyarakat tidak tahu ke organisasi mana mereka akan menyumbang
Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi Tim Peneliti PIRAC:
Hamid Abidin (08164841438 / 7752699 / 7756071)
Kurniawati (7752699 / 7756071)
Email: pirac@cbn.net.id
Pengantar
Survei “Pola dan Potensi Sumbangan Masyarakat” yang dilaksanakan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat masih tinggi, yakni 99,6%. Artinya, hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden survei ini memberi sumbangan dalam setahun terakhir. Tingginya kedermawanan masyarakat juga bisa dilihat dari peningkatan jumlah masyarakat yang menyisihkan dana untuk sumbangan, serta besaran dana yang disisihkan. Hasil survei juga menunjukkan bahwa pola menyumbang masyarakat masih cenderung bersifat langsung (direct giving) dan untuk program jangka pendek. Survei juga mencatat tingkat pengetahuan publik terhadap LSM mengalami penurunan, yang diikuti juga menurunnya tingkat menyumbang masyarakat ke lembaga tersebut. Selain itu, tuntutan masyarakat terhadap transparasi pengelolaan sumbangan juga makin tinggi, meski masih sedikit masyarakat yang meminta laporan pertanggungjawaban sumbangan.
Temuan-temuan penting tersebut terungkap dalam seminar “Philanthropy Goes to Campus” yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang. Survey yang didukung FORD Foundation ini melibatkan 2500 responden dan dilakukan secara rutin setiap tiga tahun untuk mengetahui perkembangan filantropi di Indonesia, khususnya sumbangan individual/ perorangan. Survei ini sudah pernah digelar dua kali, yakni pada tahun 2000 dan 2004. Seperti dua survei sebelumnya, survei ini digelar di 11 kota besar, yakni Medan, Padang, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Balikpapan, Makassar, dan Manado. Populasi yang direpresentasi dalam survei ini adalah masyarakat kelas menengah atas yang dianggap memiliki kapasitas dalam menyumbang, yakni mereka yang memiliki penghasilan atau pekerjaan tetap, serta memiliki minimal benda-benda yang dianggap istimewa (mewah). Mereka dipilih menjadi responden survei dengan menggunakan metode multistage random sampling, sementara pengumpulan datanya dilakukan wawancara tatap muka.
TEMUAN-TEMUAN SURVEI
Seperti survei sebelumnya, tingkat kedermawanan masyarakat (rate of giving) pada survei 2007 masih cukup tinggi, yakni 99,6%. Artinya, hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden survei ini pernah memberi sumbangan dalam 1 tahun terakhir. Tingkat kedermawanan masyarakat pada survei 2007 relatif stabil, meski mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan (0,2%), jika dibandingkan dengan hasil survei tahun 2004 (99.8%) dan tahun 2000 (98%). Tingginya tingkat kedermawanan masyarakat juga bisa dilihat dari peningkatan jumlah masyarakat yang menyisihkan dana untuk menyumbang, serta besaran dana yang disisihkan. Jika pada dua survei sebelumnya (2000 dan 2004) hanya ada sekitar 16% masyarakat yang menyisihkan dana untuk sumbangan, pada tahun 2007 terjadi peningkatan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 43.7% responden. Sementara dana yang disisihkan juga meningkat dari 663.661 pada 2004 menjadi Rp 767.272 pada 2007.
Seperti survei sebelumnya, jenis sumbangan masyarakat dalam survei ini dibagi dalam tiga katagori, yakni sumbangan individu, sumbangan keagamaan dan sumbangan non keagamaan/ umum. Hasil survei 2007 menunjukkan bahwa tingkat kedermawanan untuk sumbangan individu adalah 97%, sumbangan keagamaan sebesar 94% dan sumbangan non keagamaan/ umum sebesar 92%. Meski secara prosentase mengalami penurunan, dilihat dari jumlah dana yang diberikan, sumbangan masyarakat justru mengalami kenaikan, kecuali untuk sumbangan keagamaan. Dibandingkan dengan hasil survei 2004, jumlah rata-rata sumbangan masyarakat untuk individu sedikit mengalami kenaikan dari Rp 884.985/orang/tahun menjadi Rp 926.750/orang/tahun. Kenaikan juga terjadi pada sumbangan non keagamaan yang meningkat dari Rp 301.515/orang/tahun menjadi Rp 325.775/orang/tahun. Sebaliknya, sumbangan keagamaan mengalami sedikit penurunan dari Rp 483.241/orang/tahun menjadi Rp 334.850/orang/tahun.
Untuk sumbangan non keagamaan/ umum, secara umum polanya tidak berubah dibanding survei sebelumnya. Program perbaikan lingkungan sekitar, pelayanan sosial (termasuk program emergency) dan pendidikan tetap menjadi program favorit. Namun, secara keseluruhan program-program itu mengalami penurunan pada jumlah orang yang menyumbang, kecuali program pelayanan sosial, lingkungan hidup dan pengembangan ekonomi. Ini relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat dalam tiga tahun terakhir di mana bencana alam, kerusakan lingkungan dan penurunan daya beli masyarakat menjadi persoalan krusial yang dihadapi oleh masyarakat. Sementara penurunan jumlah penyumbang lingkungan sekitar dan pendidikan mungkin saja terjadi karena peningkatan anggaran pemerintah untuk program-program tersebut.
Jika dilihat dari jumlah rata-rata sumbanganya, terlihat ada peningkatan yang cukup tinggi untuk program pemberdayaan ekonomi, dari Rp 121.737/orang/tahun (2004) menjadi Rp 198.738/orang/tahun (2007). Peningkatan juga terjadi pada program pembelaan hukum dan seni budaya, masing-masing dari Rp 114.338/orang/tahun (2004) menjadi Rp. 194.680/orang/tahun (2007) dan dari Rp.81.150/orang/tahun (2004) menjadi 275.830/orang/tahun (2007). Sementara sumbangan untuk program lainnya, seperti pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan, secara umum mengalami penurunan. Penurunan jumlah sumbangan yang signifikan terjadi pada jenis sumbangan untuk kesehatan (dari Rp 355.230/orang/tahun menjadi Rp 120.310/orang/tahun), olahraga (Rp 163.900/orang/tahun menjadi Rp 85.317/orang/tahun) dan pendidikan (Rp 290.280 menjadi Rp 213.684).
Seperti survei sebelumnya, metode penggalangan sumbangan yang ditemui masyarakat masih didominasi oleh dua metode konvensional, yakni didatangi ke rumah dan menyumbang lewat kotak amal. Meski demikian, dua metode ini mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dua survei sebelumya. Sementara metode-metode yang lain, seperti event amal, menyumbang lewat teman, atau menyumbang lewat tempat kerja relatif stabil. Survei 2007 juga ditandai dengan mulai dikenalnya beberapa metode baru dalam penggalangan sumbangan, seperti sumbangan lewat SMS dan email atau internet. Ini menunjukkan metode penggalangan sumbangan yang digunakan oleh organisasi sosial mulai berkembang dan masyarakat mulai bisa menerima metode-metode baru dalam penggalangan sumbangan. Sementara metode yang banyak dipilih masyarakat dalam berderma juga tidak jauh dari survei sebelumnya, yakni dipotong dari pembelian barang, mengisi kotak amal, event amal, melalui tempat kerja dan didatangi ke rumah.
Survei 2007 menunjukkan bahwa alasan atau motivasi yang melatarbelakangi motif seseorang menyumbang polanya tidak berubah dibanding survei sebelumnya. Ajaran agama masih menjadi motivasi utama masyarakat dalam menyumbang (97%). Motivasi lain yang juga dominan adalah belas kasihan (90%), solidaritas sosial (87%), dan kepercayaan kepada organisasi (47%). Sedangkan ”tidak punya uang” dan ”tidak percaya pada penggalang dana” merupakan dua alasan tertinggi responden dalam menolak menyumbang. Namun, alasan tidak punya uang mengalami penurunan dibandingkan survei sebelumnya, sementara itu tingkat ketidakpercayaan kepada penggalang dana justru mengalami kenaikan. Alasan ketidakpercayaan ini juga diperkuat dengan alasan-alasan lain yang juga berkaitan dengan ketidakpercayaan, yaitu tidak percaya pada organisasinya dan tidak percaya pada programnya. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa faktor trust/ kepercayaan merupakan faktor yang krusial dalam kegiatan kedermawanan, selain faktor kapasitas menyumbang masyarakat yang lebih berkaitan dengan aspek ekonomi.
Berkaitan dengan laporan sumbangan, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (70%) memandang perlu untuk mengetahui laporan pendayagunaan sumbangan yang mereka berikan. Namun, Meski persepsi masyarakat terhadap pentingnya pelaporan sumbangan cukup tinggi, jumlah responden yang pernah meminta laporan sumbangan ternyata masih rendah (10%). Responden juga memiliki preferensi yang berbeda dari survei sebelumnya berkenaan dengan mekanisme pelaporan sumbangan. Pada dua survei sebelumnya sebagian besar responden lebih menyukai mekanisme pelaporan yang dipasang di tempat-tempat pertemuan (41% dan 47%) atau disampaikan langsung ke penyumbang (23% dan 20%). Namun, pada survei 2007 responden lebih menginginkan pelaporan yang disampaikan melalui media (26%). Ini mengindikasikan tuntutan pertanggungjawaban yang lebih tinggi dari masyarakat penyumbang kepada organisasi penerima sumbangan.
Survei juga mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang LSM menurun, dari 30% (2004) menjadi 23% (2007). Artinya, semakin banyak masyarakat yang tidak kenal terhadap LSM. Meski tingkat pengetahuan minim, sebagian besar responden (66%) menyatakan bersedia menyumbang jika diminta oleh LSM. Sayangnya, hanya 17% saja responden yang secara riil pernah menyumbang pada LSM. Sebagian besar responden (63,4%) tidak menyumbang karena tidak pernah diminta menyumbang oleh LSM. Alasan lainnya adalah tidak kenal dan percaya pada organisasinya (14%), tidak tahu info LSM (7,5%) dan tidak ada LSM di sekitar tempat tinggal (4,7%). Kecenderungan ini mengindikasikan minimnya upaya LSM dalam melakukan sosialisasi dan penggalangan sumbangan masyarakat. Karena itulah, komitmen dan kesediaan masyarakat untuk menyumbang tidak bisa dimanfaatkan karena masyarakat tidak tahu ke organisasi mana mereka akan menyumbang
Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi Tim Peneliti PIRAC:
Hamid Abidin (08164841438 / 7752699 / 7756071)
Kurniawati (7752699 / 7756071)
Email: pirac@cbn.net.id